" Satu Barisan, Satu Cita: Indonesia Baru "
         Home
         Profil
         Berita dan Info
         Opini
         Suara Barisan
         Registrasi KTA
         Buku Tamu



Amien Rais memberi Tauziah dalam puncak acara HUT PAN ke-9


MAR bersama istri dalam suatu acara kampanye Pilpres 2004 di Jogja


Opini :
Ahmad Yohan
PAN, Suara Terbanyak dan Aktualisasi Kuasa Masyarakat

Salah satu wacana tentang partai politik di Indonesia yang menarik untuk dibicarakan saat ini selain tentang calon presiden mendatang adalah tentang Partai Amanat Nasional (PAN) karena secara internal akan menetapkan anggota legislatif hasil Pemilu 2009 berdasarkan suara terbanyak.


Ahmad Yohan
BM PAN dan Semangat Sumpah Pemuda

Tujuh puluh sembilan tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1928, pemuda Indonesia telah membuat sejarah penting yakni mendeklarasikan Sumpah Pemuda untuk "Bertanah Air Satu Tanah Air Indonesia, Berbangsa Satu Bangsa Indonesia dan Berbahasa Satu Bahasa Indonesia". Peristiwa ini dianggap sangat penting dalam sejarah bangsa kita karena telah mampu menggelorakan semangat seluruh kaum muda di seluruh pelosok Nusantara untuk ikut serta mewujudkan cita-cita kemerdekaan dan berdirinya tanah air Indonesia.

 

Resensi

" Bangkit Melawan Korporatokrasi "

Aria Ganna Henryanto

(Ketua Litbang DPW BM PAN DIY)



Judul : Agenda Mendesak Bangsa Selamatkan Indonesia!
Penulis : M. Amien Rais
Penerbit : PPSK Press, Maret 2008 (cetakan I)
Tebal : xiv + 298 halaman



Aria Ganna

Bung Karno pernah mengajarkan: for a fighting nation, there is no journey's end. Bagi bangsa pejuang tidak ada stasiun akhir. Sungguh apa yang terjadi pada bangsa Indonesia sekarang jauh dari berjuang. Bangsa ini sedang mengalami cuci pikiran oleh kekuatan korporatokrasi. Proses cuci pikiran itu akhirnya bisa membawa kita menjadi bangsa yang tidak mampu lagi melihat kenyataan sebagai kenyataan.

Amien Rais melalui bukunya "Agenda Mendesak Bangsa-Selamatkan Indonesia!" menunjukkan bahwa apa yang sedang kita alami tak lebih dari bekerja melayani asing, namun

Amien Rais melalui bukunya "Agenda Mendesak Bangsa-Selamatkan Indonesia!" menunjukkan bahwa apa yang sedang kita alami tak lebih dari bekerja melayani asing, namun yakin bahwa kita sedang menggerakkan pembangunan ekonomi untuk kepentingan bangsa. Fakta itu tampak dari ada sinyalemen privatisasi BUMN di tahun 2008 secara kalap semakin nyata. Komite privatisasi Perusahaan BUMN sudah membuat daftar 44 BUMN yang akan dijual, yang mencakup: sektor transpotasi (4 BUMN); sektor perbankan/keuangan (3 BUMN); sektor manufaktur (9 BUMN); sektor engineering (1 BUMN); sektor jasa (4 BUMN); sektor konstruksi (6 BUMN); sektor perkebunan (3 BUMN); sektor industri strategis (6 BUMN); sektor kawasan industri (5 BUMN); sektor tekstil (2 BUMN) serta sektor properti (1 BUMN). Pendek kata, sale our nation!

Kekuatan-kekuatan kapitalis dan demokrasi liberal barat itulah yang membangun sebuah jaringan ekonomi, keuangan, politik, militer, intelektual dan media massa yang dinamakan korporatokrasi. Dengan membonceng proses globalisasi, jaringan korporatokrasi ini berusaha menggegam ekonomi dunia dan menaklukkan negara-negara berkembang dengan berbagai cara: cara kekerasan dan pendudukan militer; cara ancaman; dan pengawasan jarak jauh yang tidak kalah efektif dibanding dua cara lainnya.

Tujuan pokoknya adalah memelihara status quo yang berupa keunggulan ekonomi dan kemakmuran untuk negara-negara barat serta pelestarian hegemoni atau dominasi pengetahuan dan teknologi, politik dan militer mereka atas negara-negara berkembang. Bisa juga dikatakan tujuan pokok itu adalah memelihara dan mengawetkan keunggulan multi-dimensional negara-negara mantan kolonialis-imperalis atas negara-negara mantan jajahan.

Amien Rais berpendapat, Indonesia dewasa ini telah menjadi subordinat dari jaringan korporatokrasi internasional yang memang dahsyat. Berbeda dengan dengan India, China, Malaysia dan lain-lain yang berhasil mengarungi gelombang globalisasi dan berhasil menghindari jeratan korporatokrasi internasional, Indonesia justru semakin terpasung ke dalam pusaran globalisasi dan korporatokrasi.

Pemerintahan Yudhoyono sebagai hasil pilihan langsung rakyat Indonesia, sesungguhnya mempunyai legitimasi kuat untuk membebaskan Indonesia dari perangkap korporatokratik yang jelas-jelas menguras habis-habisan kekayaan Indonesia. Diharapkan juga mampu merintis jalan baru buat tegaknya kedaulatan ekonomi, kedaulatan politik, dan kedaulatan pertahanan keamanan. Namun sayang, kedaulatan Indonesia justru tergadaikan ke berbagai korporasi asing.

Buku ini cukup memberikan pencerahan sekaligus menambah wacana ekonomi alternatif. Referensi yang dikutip sangat beragam dan berimbang, mulai dari mazhab neo-klasik hingga sosialis. Hanya saja isi buku yang sangat menarik dan penting ini sangat mungkin menjadi bias oleh karena momentum peluncuran buku mendekati PEMILU 2009. Tak perlu berburuk sangka, karena pelajaran yang diberikan oleh buku ini untuk kepentingan bangsa jangka panjang bukan hanya sebatas pragmatisme jangka pendek.

© badan sistem informasi strategis dpw bm pan diy 2008