|
Resensi
"
Bangkit Melawan Korporatokrasi "
Aria Ganna Henryanto
(Ketua Litbang DPW BM PAN DIY)

Judul : Agenda Mendesak Bangsa Selamatkan Indonesia!
Penulis : M. Amien Rais
Penerbit : PPSK Press, Maret 2008 (cetakan I)
Tebal : xiv + 298 halaman
|
|
Bung
Karno pernah mengajarkan: for a fighting nation, there is
no journey's end. Bagi bangsa pejuang tidak ada stasiun akhir.
Sungguh apa yang terjadi pada bangsa Indonesia sekarang jauh
dari berjuang. Bangsa ini sedang mengalami cuci pikiran oleh
kekuatan korporatokrasi. Proses cuci pikiran itu akhirnya
bisa membawa kita menjadi bangsa yang tidak mampu lagi melihat
kenyataan sebagai kenyataan.
Amien Rais melalui bukunya "Agenda Mendesak Bangsa-Selamatkan
Indonesia!" menunjukkan bahwa apa yang sedang kita alami
tak lebih dari bekerja melayani asing, namun
|
Amien
Rais melalui bukunya "Agenda Mendesak Bangsa-Selamatkan Indonesia!"
menunjukkan bahwa apa yang sedang kita alami tak lebih dari bekerja
melayani asing, namun yakin bahwa kita sedang menggerakkan pembangunan
ekonomi untuk kepentingan bangsa. Fakta itu tampak dari ada sinyalemen
privatisasi BUMN di tahun 2008 secara kalap semakin nyata. Komite
privatisasi Perusahaan BUMN sudah membuat daftar 44 BUMN yang akan
dijual, yang mencakup: sektor transpotasi (4 BUMN); sektor perbankan/keuangan
(3 BUMN); sektor manufaktur (9 BUMN); sektor engineering (1 BUMN);
sektor jasa (4 BUMN); sektor konstruksi (6 BUMN); sektor perkebunan
(3 BUMN); sektor industri strategis (6 BUMN); sektor kawasan industri
(5 BUMN); sektor tekstil (2 BUMN) serta sektor properti (1 BUMN).
Pendek kata, sale our nation!
Kekuatan-kekuatan kapitalis dan demokrasi liberal barat itulah
yang membangun sebuah jaringan ekonomi, keuangan, politik, militer,
intelektual dan media massa yang dinamakan korporatokrasi. Dengan
membonceng proses globalisasi, jaringan korporatokrasi ini berusaha
menggegam ekonomi dunia dan menaklukkan negara-negara berkembang
dengan berbagai cara: cara kekerasan dan pendudukan militer; cara
ancaman; dan pengawasan jarak jauh yang tidak kalah efektif dibanding
dua cara lainnya.
Tujuan pokoknya adalah memelihara status quo yang berupa keunggulan
ekonomi dan kemakmuran untuk negara-negara barat serta pelestarian
hegemoni atau dominasi pengetahuan dan teknologi, politik dan
militer mereka atas negara-negara berkembang. Bisa juga dikatakan
tujuan pokok itu adalah memelihara dan mengawetkan keunggulan
multi-dimensional negara-negara mantan kolonialis-imperalis atas
negara-negara mantan jajahan.
Amien Rais berpendapat, Indonesia dewasa ini telah menjadi subordinat
dari jaringan korporatokrasi internasional yang memang dahsyat.
Berbeda dengan dengan India, China, Malaysia dan lain-lain yang
berhasil mengarungi gelombang globalisasi dan berhasil menghindari
jeratan korporatokrasi internasional, Indonesia justru semakin
terpasung ke dalam pusaran globalisasi dan korporatokrasi.
Pemerintahan Yudhoyono sebagai hasil pilihan langsung rakyat Indonesia,
sesungguhnya mempunyai legitimasi kuat untuk membebaskan Indonesia
dari perangkap korporatokratik yang jelas-jelas menguras habis-habisan
kekayaan Indonesia. Diharapkan juga mampu merintis jalan baru
buat tegaknya kedaulatan ekonomi, kedaulatan politik, dan kedaulatan
pertahanan keamanan. Namun sayang, kedaulatan Indonesia justru
tergadaikan ke berbagai korporasi asing.
Buku ini cukup memberikan pencerahan sekaligus menambah wacana
ekonomi alternatif. Referensi yang dikutip sangat beragam dan
berimbang, mulai dari mazhab neo-klasik hingga sosialis. Hanya
saja isi buku yang sangat menarik dan penting ini sangat mungkin
menjadi bias oleh karena momentum peluncuran buku mendekati PEMILU
2009. Tak perlu berburuk sangka, karena pelajaran yang diberikan
oleh buku ini untuk kepentingan bangsa jangka panjang bukan hanya
sebatas pragmatisme jangka pendek.
|